Kasus Penggelapan Dana Askes Bireuen Masuk ke Tahap Penyidikan

Ilustrasi (sumber : ajnn.net)

Kejaksaan Negeri (Kejari) Bireuen telah meningkatkan kasus penggelapan subsidi iuran Asuransi Kesehatan (Askes) tahun anggaran 2013 yang diduga membuat Negara rugi sebesar Rp 1.1 miliar lebih dari penyelidikan ke penyidikan. Saat ini kasus penggelapan dana iuran Askes tersebut sudah ditangani oleh tim Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Bireuen.

Kasus yang mencuat ke publik tersebut dalam proses penyidikan oleh tim Pidsus mulai menampakkan kemajuan, hal ini menyusul pengakuan dari pelaku Fandi Munawar kepada jaksa penyidik Senin 8 September 2014 lalu.

Menurut informasi yang diperoleh AJNN, sesuai dengan pengakuan dalam keterangan Fandi kepada tim penyidik kejaksaan Senin 8 September lalu itu, mulai terungkap jika uang dengan total Rp 1,1 miliar selain sudah dipakai untuk kepentingan pribadinya, juga dinikmati oleh atasannya yaitu Kadis DPKKD Drs Tarmidi.

Fandi yang datang ke kantor Kajari Bireuen didampingi pengacara M Husin SH untuk memenuhi pemanggilan pihak kejaksaan untuk melengkapi keterangan kasus penggelapan dana Askes tahun 2013 yang dilakukan semasa ia menjabat sebagai bendahara DPKKD Bireuen.

Terkait dengan pengakuan Fandi Munawar, Kasi Pidsus Kajari Bireuen Juliady Lingga SH yang ditemui di kantor Kajari Bireuen Senin 8 September 2014 kepada awak media menguraikan jika pelaku utama yang telah menghabiskan dana Askes adalah mantan bendahara DPKKD Pemkab Bireuen Fandi Munawar.

“Fandi telah menggunakan uang kas daerah sebesar Rp 612.0000.0000 untuk berfoya-foya dan untuk kepentingan pribadinya”, kata Zuliady.

Ditambahkan pula, untuk sementara menurut pengakuan Fandi yang dibuktikan dengan sejumlah lembar bukti tertulis yang diserahkan kepada jaksa penyidik, bahwa atasannya Kadis DPKKD Drs Tarmidi ikut menikmati dana Askes sebesar Rp 452.000.000.

Fandi juga merincikan jika uang senilai Rp 612.000.000 yang diraupnya telah habis dipakai untuk berfoya-foya. Sebagian besar dari total uang itu digunakan untuk main judi sistem online, yang mencapai nilai Rp 425 juta. Termasuk juga melancong dan tidur di hotel mewah di Kota Medan selama satu minggu Rp 30 juta. Dan beberapa item lainnya yang ia uraikan hingga total uang yang terpakai Rp 612 juta.

Pada hari yang sama seiring dengan pengakuan Fandi tersebar kabar bahwa Kadis DPKKD Bireuen Drs Tarmidi sedang menjalani pengobatan serius dan diopname di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.

Sampai saat ini belum ada pihak yang memberikan keterangan tentang penyakit yang diderita Tarmidi hingga harus menjalani pengobatan rawat inap kerumah sakit ternama di ibu kota. Meskipun demikian sejumlah sumber dari kalangan pegawai Pemkab Bireuen mengatakan, Kadis DPKKD Bireuen yang foto sedang dalam kondisi sakit dan diopname di Jakarta sempat diunggah ke dunia maya oleh rekannya yang datang membesuk mensinyalir kalau Tarmidi mengidap penyakit dalam yang berhubungan dengan jantung.

Sumber : www.ajnn.net