Nikmatnya Berseragam Koruptor

Tulisan dengan judul aslinya “Nikmatnya Berseragam Koruptor dari pada Berseragam Pencuri” adalah sebuah gagasan yang ditulis oleh Baihaqi, salah satu staf Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) yang telah dipublish di salah satu media sosial miliknya. Tulisan ini menarik untuk memberi gambaran kepada semua kita bagaimana perlakuan yang didapat oleh seseorang yang pernah terlibat tindak pidana korupsi.

Menurut Jack Bologne, korupsi timbul berdasarkan 4 unsur yang dia sebut sebagai teori GONE.
G = Greedy (keserakahan)
O = Opportunity (peluang)
N = Needs (kebutuhan)
E = Expose (pengungkapan)

Tentu, semua kita pasti akan sangat marah bila barang atau harta benda kita dicuri. Bahkan tak jarang kita mendengar kalimat sumpah serapah yang dialamatkan kepada si pencuri ditambah sedikit ‘sentuhan’ tangan-tangan kekar. Ini adalah hal yang sangat wajar karena bentuk kemarahan yang tak terkendali.

Ditempat yang lain, mungkin kemarahan terhadap pencuri bisa dikatakan berlebihan. Bukan sumpah serapah saja, tapi lebih parah. Bahkan tak jarang nyawa si pencuri melayang. Padahal yang dicuri harganya tak seberapa, tapi nyawa yang menjadi gantinya, seperti berita yang pernah heboh beberapa waktu lalu.

Kemudian, kalau pun nyawanya tak melayang, si pencuri sudah barang pasti diserahkan ke aparat penegak hukum. Disana, mungkin saja kena lagi ‘belaian’ kasar tangan-tangan dan sedikit tendangan dari segelintir oknum. Setelah diperiksa, pemberkasan dan tuntutan selesai, Majelis Hakim yang langsung mengetuk palu ‘keramat’.

Tak ada banding apalagi Peninjauan Kembali (PK) ke tingkatan pengadilan yang lebih tinggi. Pun setelah ia ‘lulus’ dari rumah binaan, sanksi sosial tetap masih ia dapatkan. Masyarakat memandang sinis. Dan tak jarang, keturunannya juga mendapatkan label yang serupa. Misalnya, William aneuk si Stephen pancuri.

Begitulah sedikit gambaran bagaimana cara ‘menghargai’ seorang pencuri. Marah dan emosi yang berlebih itu sudah barang pasti, karena kita selaku korban mendapatkan dampak langsung dari ulah si pencuri. Kehilangan harta benda yang telah susah payah kita usahakan dan kita jaga.

Akibat dampak langsung itu, kebanyakan kita tak pernah mau peduli apa yang melatarbelakangi dia mencuri. Mungkin karena dia dan keluarga belum makan, atau mungkin karena kebutuhan mendesak lainnya sehingga dia tergerak mengambil jalan pintas meski tak pantas.

Namun, apapun dalihnya yang namanya mencuri tetaplah mencuri. Pelakunya harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Kalau alasannya ini itu dan mendesak, tetap saja ada jalan yang pantas asalkan mau berusaha karena dunia ini tak selebar daun kelor. Pasti ada hamba Allah yang baik hati untuk bersedia membantu.

Perlakuan terhadap Koruptor

Bagaimana perlakuan terhadap koruptor? Saya berani jamin 1000%, perlakuannya akan sangat kontras dengan perlakuan terhadap pencuri sebagaimana saya uraikan diatas. Tak ada tonjok-tonjok yang berakibat rontoknya gigi depan si koruptor. Bahkan, tak sedikit pula diantara kita yang tak mau ambil pusing atas ulahnya itu. Hadeeuuhhhh….

Kalau pun ada yang marah, mungkin marahnya tak semarah seperti cerita terhadap pencuri. Hal ini karena kita tidak secara langsung akan ‘menikmati’ dampak dari kejahatan yang merugikan keuangan negara. Padahal jika ditelisik lebih jauh, korupsi adalah kejahatan kemanusian yang merusak segala sendi kehidupan.

Ada anggapan sebagian orang, uang yang dikorup itu bukan uang kita. “Meu peng negara, bah i cok keudeh, pajan sit lom nyoe ken jinoe” atau ada juga yang mencoba membela, “Apa gam nyan i jeubak korupsi karena karir gob nyan teungoh di ek on”. Padahal, itu adalah anggapan yang keliru bahkan bisa dikategorikan sesat pikir.

Belum lagi ketika proses penyelidikan dan penyidikan memakan waktu yang cukup lama. Berbagai macam dalih dilahirkan oleh oknum penegak hukum. Belum keluar hasil audit kerugian negara lah, masih dalam tahap pengumpulan alat bukti dan keterangan lah. Dan seribu macam alasan lainnya yang membuat si pelaku tenang dan nyaman.

Pun setelah kasusnya dilimpahkan ke pengadilan tindak pidana korupsi dan mendapatkan putusan Majelis Hakim, pelaku masih ada kuasa untuk banding. Tak puas, bisa kasasi dan bahkan sampai pada Peninjauan Kembali (PK). Ini membuktikan bahwa koruptor itu bukanlah orang miskin harta dan papa akan strategi pembelaan.

Biasanya, pelaku yang melakukan korupsi bukan dilatar belakangi karena kebutuhan mendesak, semisal belum makan atau anaknya tidak ada susu, tapi pada keserakahan dan ketamakan yang berlebih. Mereka bukanlah orang-orang yang miskin, melainkan orang-orang yang sedang mengemban amanah dan jabatan tinggi.

Sangat tidak mungkin, mereka korupsi karena dilatar belakangi karena kesulitan ekonomi. Menurut Jack Bologne, korupsi timbul dikarenakan 4 unsur yang dia sebut sebagai teori GONE. G berarti Greedy (keserakahan) kalau dalam bahasa Aceh lebih dikenal dengan Geureuda. O adalah singkatan Opportunity (peluang) dan N adalah Needs (kebutuhan) serta E berarti Expose (pengungkapan).

Terkait dengan teori yang disebut oleh Jack Bologne akan kita perdalam lagi dipostingan yang lain. Kembali lagi, ketika dalam proses binaan dirumah tahanan, tak jarang dari mereka mendapatkan perlakuan yang istimewa. Dan karena ‘kenikmatan’ itu, banyak diantara mereka yang mampu menyelesaikan dua atau tiga buku.

Kita pun terkadang bodoh. Mau membeli buku yang ditulis oleh pelaku korupsi. Meskipun sering kita mendengar, “walau dari mulut anjing, kalau itu baik tetap harus diterima”. Kalau soal ini tak ada bantahan, tapi membeli buku yang ditulis oleh koruptor adalah soal lain. Saya melihat, pembelian buku ini adalah bentuk dukungan kita kepada mereka perusak tatanan bernegara.

Kemudian, setelah ia keluar dari hotel ptodeo, sebagian kita memperlakukan ia bak baru pulang dari umrah atau haji. Ta peusijuk lagee raja dan jarang sekali ia mendapat label sebagaimana kita melabelkan pencuri seperti saya ceritakan diatas. Tak ada sanksi sosial yang ia dapat.

Sungguh enak menjadi mantan narapidana korupsi dari pada mantan narapidana pencurian. Saya pribadi melihat, ini juga menjadi salah satu faktor penyebab korupsi tumbuh subur di negeri ibu pertiwi. Bahkan kini sudah mewabah sampai ke tingkat pemerintahan desa dan juga sektor keagamaan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang memuliakan koruptor.