Pengamat: Tersangka Korupsi Masjid di Pidie Bukan Pemain Tunggal

Kasus korupsi dana pembangunan Masjid Tgk Di Meureuhom, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie yang merugikan negara hingga Rp 737 juta telah menyita perhatian publik sekaligus menimbulkan tanda tanya.

Penyidik hanya menjerat panitia pembangunan masjid Syahrul Kiran Bin Adnan (30), yang kini telah jadi tersangka. Pengamat hukum Muharramsyah menilai, situasi ini aneh karena sangat tidak mungkin kasus korupsi yang merugikan negara ratusan juta dikerjakan atau dimark up oleh satu orang, apalagi dana untuk pembangunan mesjid tersebut mencapai Rp 1,7 miliar rupiah.

“Saya tak yakin dia pemain tunggal, karena dana pembangunan dikelola oleh satu wadah yang memiliki struktur, seperti sekretaris, bendahara, pengawas dan lain-lain, yang perlu digaris bawahi dananya tidak mungkin keluar tanpa sepengetahuan mereka,” kata Muharramsyah, Selasa (11/4/2017).

Muharram menambahkan, meskipun hanya satu orang yang terlibat dalam kasus korupsi dana pembangunan mesjid tersebut, namun yang perlu diketahui, setiap kebijakan yang menguntungkan orang lain ataupun kelompok, yang merugikan negara, itu juga masuk bagian tindak pidana korupsi.

“Tidak mungkin tunggal, jika sendiri tersangkanya, berarti ada upaya mengorban satu pelaku dan menyelamatkan pelaku yang lain, ini patut dipertanyakan,” katanya.

Meski demikian, Muharram juga mengapresisi kerja Kepolisian dan Kejaksaan Pidie karena sudah berhasil mengusut kasus tersebut sejak 2014 lalu.

Polisi Bidik Tersangka Baru

Kasat Reskrim Polres Pidie AKP Syamsul yang dikonfirmasi mengatakan, berdasarkan hasil keterangan yang didapatkan dari tersangka Syahrul Kiran, memungkinkan bagi pihaknya untuk melakukan pengembangan.

Baca: Perkara Korupsi Masjid di Pidie Segera Berlabuh ke Pengadilan Tipikor

Dari keterangan Syuhrul, kata Syamsul, masih ada pihak lain yang ikut menguras dana pembangunan mesjid Meureuhom Kandang.

“Kemungkian masih ada tambahan, namun kami masih melakukan pengembangan dan penyidikan dari keterangan dari tersangka dan pengambangan kasus ini, ditunggu saja,” kata Syamsul.[]
Kasus korupsi dana pembangunan Masjid Tgk Di Meureuhom, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie yang merugikan negara hingga Rp 737 juta telah menyita perhatian publik sekaligus menimbulkan tanda tanya.

Penyidik hanya menjerat panitia pembangunan masjid Syahrul Kiran Bin Adnan (30), yang kini telah jadi tersangka. Pengamat hukum Muharramsyah menilai, situasi ini aneh karena sangat tidak mungkin kasus korupsi yang merugikan negara ratusan juta dikerjakan atau dimark up oleh satu orang, apalagi dana untuk pembangunan mesjid tersebut mencapai Rp 1,7 miliar rupiah.

“Saya tak yakin dia pemain tunggal, karena dana pembangunan dikelola oleh satu wadah yang memiliki struktur, seperti sekretaris, bendahara, pengawas dan lain-lain, yang perlu digaris bawahi dananya tidak mungkin keluar tanpa sepengetahuan mereka,” kata Muharramsyah, Selasa (11/4/2017).

Muharram menambahkan, meskipun hanya satu orang yang terlibat dalam kasus korupsi dana pembangunan mesjid tersebut, namun yang perlu diketahui, setiap kebijakan yang menguntungkan orang lain ataupun kelompok, yang merugikan negara, itu juga masuk bagian tindak pidana korupsi.

“Tidak mungkin tunggal, jika sendiri tersangkanya, berarti ada upaya mengorban satu pelaku dan menyelamatkan pelaku yang lain, ini patut dipertanyakan,” katanya.

Meski demikian, Muharram juga mengapresisi kerja Kepolisian dan Kejaksaan Pidie karena sudah berhasil mengusut kasus tersebut sejak 2014 lalu.

Polisi Bidik Tersangka Baru

Kasat Reskrim Polres Pidie AKP Syamsul yang dikonfirmasi mengatakan, berdasarkan hasil keterangan yang didapatkan dari tersangka Syahrul Kiran, memungkinkan bagi pihaknya untuk melakukan pengembangan.

Baca: Perkara Korupsi Masjid di Pidie Segera Berlabuh ke Pengadilan Tipikor

Dari keterangan Syuhrul, kata Syamsul, masih ada pihak lain yang ikut menguras dana pembangunan mesjid Meureuhom Kandang.

“Kemungkian masih ada tambahan, namun kami masih melakukan pengembangan dan penyidikan dari keterangan dari tersangka dan pengambangan kasus ini, ditunggu saja,” kata Syamsul.[]

Sumber: Beritakini