Ulama Aceh Utara: Fee Dana Aspirasi Dewan Haram

Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Utara menggelar Muzakarah tetang kehalalan harta dalam ibadah, di Hotel Lido Graha Lhokseumawe, Selasa-Rabu, 21-22 Oktober 2014. Muzakarah diikuti seratusan ulama seAceh Utara itu turut menyorot fee dana aspirasi anggota dewan.

“Menerima sumbangan dari seseorang dengan syarat memberikan imbalan atau fee beberapa persen kepada pemberi, maka fee tersebut hukumnya haram seperti uang aspirasi dewan,” demikian bunyi salah satu poin hasil Muzakarah Ulama Aceh Utara.

Kegiatan dengan tema “Melalui Muzakarah Ulama Kita Tingkatkan Pemahaman Umat tentang Pentingnya Kehalalan Harta dalam Ibadah” itu menghasilkan 11 poin termasuk pengertian halal, haram, dan syubhat.

Pada poin terakhir, ulama merekomendasikan Bupati Aceh Utara agar mengeluarkan imbauan tentang larangan papan bunga pada acara kematian. “Bupati Aceh Utara (perlu) memberikan imbauan terhadap pelarangan papan bunga pada acara kematian,” demikian bunyi poin itu.

Muzakarah ulama itu dibuka Bupati Aceh Utara Muhammad Thaib atau Cek Mad, Selasa kemarin. Turut hadir Kepala Dinas Syariat Islam M. Idris dan para pejabat Aceh Utara lainnya.

Ditemui para wartawan seusai Bupati membuka kegiatan itu, kemarin, Ketua MPU Aceh Utara Tgk. H. Mustafa Ahmad mengatakan pihaknya akan mensosialisasikan hasil Muzakarah kepada masyarakat.

“Kita kan ada konsep ‘turba’, turun ke bawah, kecamatan-kecamatan untuk kita sosialisasikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Tgk. Mustafa Ahmad akrab disapa Abu Paloh Gadeng mengatakan banyak masyarakat belum memahami kehalalan harta dalam ibadah sehingga MPU membahas hal itu dalam Muzakarah kali ini.

“Fokus kali ini menyangkut sumbangan dan sadakah dari jenis harta haram. Di antaranya (hasil) jualan yang tidak sah menurut agama atau harta riba, atau hasil jualan narkoba, atau hasil korupsi, dan sebagainya,” katanya.

“Saya kira sekarang banyak yang cari harta, bukan cari halal,” ujar Abu Paloh Gadeng.[Irman I. Pangeran]

Sumber: Atjehpost.co