Warga Miskin di Aceh Bertambah

TARGET Pemerintah Aceh menurunkan penduduk miskin 2 persen setahun sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2012-2017, masih sebatas rencana. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), penduduk miskin Aceh pada posisi Maret 2015 mencapai 851.000 orang atau bertambah 14.000 orang dibanding posisi September 2014.

Data yang dirilis secara periodik oleh BPS Aceh mencatat jumlah penduduk miskin di provinsi ini pada posisi Maret 2015 mencapai 851.000 orang atau 17,08 persen. Artinya, bertambah sebanyak 14.000 orang bila dibandingkan dengan September 2014 yang jumlahnya 837.000 orang atau 16,98 persen.

Rumah warga di Lhokseumawe. [Foto Facebook Edi Fadhil]
Kepala BPS Aceh, Hermanto SSi MM yang dikonfirmasi lebih lanjut oleh Serambi, Selasa (15/9) menyangkut data tersebut menjelaskan, penduduk miskin di provinsi ini pada Maret 2015 mencapai 851.586 orang dengan sebaran 157.000 orang berada di perkotaan dan 694.000 orang di perdesaan. “Jumlah penduduk miskin di Aceh naik dari 16,98 persen ke 17,08 persen dari populasi penduduk Aceh saat ini,” kata Hermanto.

Menurut Hermanto, penghitungan jumlah penduduk miskin mengacu pada kategori yang ditetapkan pemerintah yakni mereka memiliki rata-rata pengeluaran per bulan di bawah angka garis kemiskinan.

Periode Maret nilai garis kemiskinan di Aceh sebesar Rp 390.150 per bulan atau naik sebesar 3,47 persen dibandingkan September 2014 yang hanya Rp 377.049 per bulan.

Untuk daerah perkotaan, lanjut Hermanto, garis kemiskinan periode Maret 2015 Rp 410.414 atau meningkat 3,39 persen dari periode September 2014 Rp 396.939 per bulan.

Adapun garis kemiskinan perdesaan naik sebesar 3,49 persen yaitu dari Rp 369.232 pada September 2014 menjadi Rp 382.117 pada Maret 2015. “Peningkatan garis kemiskinan ini dipengaruhi pergerakan harga-harga tingkat konsumen atau inflasi di daerah,” ujarnya.

Hemanto menyebutkan, faktor utama belum tercapainya upaya pemerintah untuk menurunkan angka kemiskinan di Aceh yaitu perlambatan ekonomi di Aceh di mana hampir keseluruhannya didorong oleh APBA dan APBN.

“Pada triwulan I ekonomi kita yang didorong oleh anggaran pemerintah baik APBA dan APBN belum efektif, ini yang menyebabkan daya beli masyarakat lemah. Dinamika garis kemiskinan memang dipengaruhi oleh dinamika ekonomi dan pola musiman,” ujarnya.

Hemanto menyatakan, bila data kemiskinan Aceh di bulan Maret 2015 naik diharapkan pada periode September 2015 nanti kemiskinan Aceh dapat turun seiring banyaknya terealisasi serapan anggaran pada periode itu.

“Kalau dilihat realisasi anggaran sudah berjalan saat ini mencapai 41 persen, September nanti pemerintah juga seharusnya bisa menurunkan angka kemiskinan Aceh,” tandas Hermanto.

Hermanto melanjutkan, dengan memperhatikan komponen garis kemiskinan, maka peranan komoditas makanan lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan. Pada Maret 2015 sumbangan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 75,97 persen sedangkan September 2014 76,52 persen.

“Komoditas yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras dan rokok. Sumbangan pengeluaran beras dan rokok lebih besar terhadap garis kemiskinan pada komponen makanan,” katanya.

Hermanto menyebutkan, sumbangan pengeluaran beras terhadap garis kemiskinan makanan pada Maret 2015 seperti beras memberikan sumbangan sebesar 32,35 persen di perkotaan dan 39,89 persen di pedesaan. Sumbangan pengeluaran rokok, persentasenya lebih besar di pedesaan, yaitu sebesar 8,61 persen sedangkan di perkotaan 11,38 persen.

“Untuk komoditas bukan makanan, biaya perumahan mempunyai peranan yang cukup besar terhadap garis kemiskinan bukan makanan dengan total 23,26 persen di perkotaan dan 22,56 persen di pedesaan,” sebut Hermanto.

Sedangkan untuk indeks kedalaman kemiskinan dan keparahan tingkat kemiskinan, Hermanto mengatakan, indeks kedalaman kemiskinan bergeser dari 3,139 pada September 2014 menjadi 3,104 pada Maret 2015. “Adapun indeks keparahan kemiskinan pada periode sama bergeser dari 0,861 menjadi 0,832,” pungkasnya.[avi]

Sumber: Serambi