Kasus Bantuan Ternak, MaTA: Banyak Aktor Diduga Menerima Aliran Dana

Kasus Bantuan Ternak, MaTA: Banyak Aktor Diduga Menerima Aliran Dana

Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mengapresiasi langkah kejaksaan menahan tiga tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan ternak bersumber dari APBK Lhokseumawe tahun 2014 senilai Rp14,5 miliar yang merugikan negara Rp8,1 miliar lebih.

“MaTA mendukung dan kami mengapresiasi terhadap kebijakan penahanan tersebut,” kata Koordinator MaTA, Alfian, saat diminta tanggapannya, Kamis, 26 Juli 2018, malam.

MaTA meminta penyidik Polres Lhoksemawe untuk melakukan penyidikan secara utuh, sehingga siapa pun baik pelaku maupun penerima aliran dana dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi tersebut dapat ditindak tegas sesuai hukum berlaku.

“Kami tidak hanya menilai dari sisi kerugian keuangan negara, tetapi ratusan jiwa penerima manfaat sangat dirugikan, sehingga terjadi ketidakpastian dalam keberlangsungan hidup mereka, yang seharusnya bantuan tersebut dapat menjadi modal hidup mareka untuk masa yang akan datang,” ujar Alfian.

Alfian menyebutkan, kepastian hukum sangat penting terhadap kasus tersebut, dan adanya rasa keadilan yang diterima para korban yakni masyarakat akibat terjadi korupsi.

Menurut Alfian, MaTA sudah melakukan kajian, di mana kasus tersebut tidak berdiri pada tiga atau empat orang saja, tetapi banyak aktor diduga menerima aliran dana tersebut.

“Di sini butuh kemauan kuat penyidik dalam melakukan penelusuran yang serius. Kami mendukung penuh langkah yang akan dilakukan penyidik untuk selanjutnya. Kasus ini sudah menjadi perhatian publik, dan kami berharap adanya penegakan hukum secara utuh,” kata Alfian.

Diberitakan sebelumnya, kejaksaan langsung menahan tiga tersangka dugaan korupsi pengadaan/penyaluran bantuan ternak bersumber dari APBK Lhokseumawe tahun 2014. Ketiga tersangka ditahan setelah diserahkan penyidik Polres Lhokseumawe kepada pihak Kejari Lhokseumawe di Kantor Kejati Aceh, di Banda Aceh, Kamis, 26 Juli 2018, siang.

Tiga tersangka itu berinisial drh. Rz (Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian/DKPP) Kota Lhokseumawe, drh. DH (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan/PPTK), dan drh. IM, (Pejabat Pembuat Komitmen/PPK pada DKPP Lhokseumawe). Jadi, DH dan IM merupakan bawahan alias “anak buah” Rz di DKPP Lhokseumawe.

Kajari Lhokseumawe Muhammad Ali Akbar, S.H., M.H., melalui Kasi Intelijen, Miftahuddin, S.H., didampingi Kasi Pidana Khusus, Fery Ihsan, S.H., M.H., mengatakan, penyerahan Rz, DH dan IM dari penyidik kepada jaksa turut disaksikan penasihat hukum ketiga tersangka dari Kantor Hukum HN dan Partner.

Miftahuddin mengatakan, tersangka Rz dan IM ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kajhu, sedangkan DH (perempuan) di Rutan Lhoknga, Aceh Besar. Lokasi penahanan berbeda, kata Miftahuddin, lantaran Rutan Lhoknga khusus untuk tahanan perempuan. “Saat ini ketiga tersangka sudah kita tahan,” ujarnya. (Baca: Jaksa Tahan Kepala DKPP Lhokseumawe dan Dua ‘Anak Buahnya’)

Tiga tersangka ditahan untuk 20 hari mulai 26 Juli 2018. Jaksa Penuntut Umum (JPU) akan berupaya melimpahkan berkas perkara ketiga tersangka ke Pengadilan Tipikor Banda Aceh dalam 20 hari ke depan untuk segera disidangkan.

Adapun pertimbangan jaksa menahan ketiga tersangka di Rutan yang ada di Banda Aceh atau Aceh Besar untuk memudahkan proses persidangan di Pengadilan Tipikor. “Untuk memudahkan dan mempercepat proses persidangan agar tidak ada kendala,” kata Miftahuddin menjawab portalsatu.com terkait pertimbangan jaksa menahan ketiga tersangka setelah diserahkan penyidik Polres Lhokseumawe.

“Dan yang perlu digarisbawahi bahwa penyidik kepolisian melakukan penyidikan terpisah terhadap ES dan kawan-kawan. ES adalah salah satu rekanan dalam pengadaan ternak itu,” ujar Miftahuddin.

Artinya, proses hukum kasus itu tidak berhenti pada tersangka Rz, DH dan IM dari DKPP Lhokseumawe. Dalam persidangan terhadap ketiga tersangka itu nantinya, kata Miftahuddin, JPU juga akan menyampaikan bahwa penyidik kepolisian melakukan penyidikan terpisah terhadap ES dan kawan-kawan.

Artikel ini telah tayang di http://portalsatu.com/read/news/kasus-bantuan-ternak-mata-banyak-aktor-diduga-menerima-aliran-dana-44017